Perspektif Mendasar Happiness dalam HI: antara Mental Health & Illness.

Perspektif Mendasar Happiness dalam HI: antara Mental Health & Illness.

Pengantar

Happiness Intelligence atau Kecerdasan Kebahagiaan, menggunakan kata ‘kebahagiaan’ ke dalam nama konsep ini menimbulkan kebutuhan untuk menjelaskan dengan lebih detail apa yang dimaksud ‘kebahagiaan’ di sini.  Apalagi bila kata itu sendiri, ‘kebahagiaan’ di dalam diskusi psikologi positif mempunyai banyak arti. 

Walaupun dalam beberapa tulisan di atas, telah beberapa kali diulas mengenai apa yang disebut kebahagiaan dalam konteks Happiness Intelligence (HI), namun Blog ini akan mendedikasikan 2 seri berikut untuk kembali memperjelas posisi tersebut, yaitu dalam kaitan dengan pemahaman mental health & illness, serta dalam diskusi mengenai kebahagiaan sebagai sebuah emosi sesaat dan sebagai sebuah way of being/moda hidup.

Kecenderungan orang untuk menafsirkan kata ‘kebahagiaan’ hanya sebatas perasaan positif, tampaknya membuat ahli Psikologi Positif berusaha menemukan kata lain yang lebih pas.  Martin Seligman, ‘bapak’ Psikologi Positif yang tadinya memberi judul bukunya ‘Authentic Happiness’, buku berikutnya yang ia tulis menggunakan judul Flourishing, yang kemudian PERMA-nya, beberapa komponen Flourishing menjadi salah satu acuan dari berbagai penelitian. 

Salah satu artikel dari seri ini akan memperjelas penggunakan ketiga kata itu, Wellbeing, Flourishing & Happiness, dari konteks Corey Keyes.  Tentunya antara satu penulis dan penulis lain bisa memberikan definisi yang berbeda, namun sementara ini, HI mengikuti perbedaan penggunaan yang digunakan oleh Corey Keyes.

                HI tetap menggunakan istilah kebahagiaan, karena kalangan umum, lebih akrab dan memahami istilah itu dibandingkan flourishing ataupun wellbeing.  Karenanya untuk tidak menimbulkan kerancuan, HI perlu mengelaborasi apa yang disebut kebahagiaan dalam konteks HI.  Seri ini merupakan salah satu upaya untuk memberi konteks tersebut.

                Kita akan mulai dengan kuadran dari Corey Keyes dan Shane Lopez yang mencoba mengintegrasikan konsep Mental Health & Illness dalam satu diagram.  Setelah itu kita akan masuk ke dalam pembahasan mengenai Mental Health dalam berbagai konsep peneliti ataupun tokoh psikologi klasik, seperti Marie Jahoda, Carl Rogers dan Abraham Maslow.

                Karena tujuannya untuk meletakan konsep Happiness di HI pada tempatnya, maka penulis dengan sengaja memilih berbagai konsep yang sejalan dengan konsep Kebahagiaan di HI.  Ini sebuah pilihan sadar agar konsep ini jelas dan bangunan yang mendukung konsep tersebut juga jelas.

                Kenapa perlu memperjelas konsep bahagia dalam konteks mental health & illness?  Sebuah alasan sederhana bisa disampaikan di sini, yaitu karena dengan didapatnya integrasi perspektif yang lengkap dari keterkaitan antara mental health & illness, maka pembaca dapat melihat dan menjalani hidup secara lebih integratif, sehingga didapat manfaat yang lebih besar dari aplikasi konsep ini.

Saya bukan ilmuwan dan bukan terapis, saya seorang psikolog (dalam arti menempuh jenjang pendidikan sampai menjadi psikolog) yang bergelut dengan klien-klien perusahaan.  Karena itu perlu diperjelas di sini, bahwa saya mendekati ilmu psikologi, khususnya psikologi positif yang mendasari blog ini, sebagai pengguna bukan mereka yang akif dalam melakukan berbagai penelitian dan pengembangan teori.  Dengan demikian berbagai tulisan di seri dan blog ini ditujukan untuk mendapatkan perspektif yang praktis dan simple agar bisa dipahami dan dimanfaatkan oleh individu ataupun organisasi.

Leave a Reply

Close Menu