Live to The Fullest

Live to The Fullest

Edisi 17, 24 Juni 2020

Happiness Intelligence (HI) melihat target Corey Keyes, yang disebut sebagai Flourishing, sebagai Baseline Happiness.  Istilah baseline disematkan untuk menegaskan bahwa happiness bagi HI bukan sebuah emosi yang bersifat fluktuatif (Silakan baca artikel berikut, no 18, mengenai Baseline, Fluctuate line & Trendline). 

Salah satu ciri dari pencapaian tersebut adalah ketika seseorang merasa dia terus berupaya untuk live to the fullest, menjalani hidup yang optimal.  Optimal dalam arti pertumbuhannya, optimal dalam arti enerjinya dan optimal dalam arti semangat hidupnya untuk memeluk kehidupan dengan erat, dengan semua tantangannya, dengan spektrum emosi yang ditimbulkannya.

                Kita bisa merasakan kehadiran orang seperti ini, perhatian yang baik pada rekan bicaranya, mindfullness & engaging terhadap berbagai aktivitasnya sehari-hari.  Eksplorasi berbagai aspek hidup dengan semangat yang tinggi.  Semangat yang tidak selalu diartikan sebagai enerji yang terlihat, tetapi lebih diartikan sebagai keluasan minat dan kesungguhan usaha untuk mencapai berbagai mimpinya.

                Enerji tentu bisa dirasakan, ketika kita merasakan concern dan motivasi yang tulus, kehadiran true self dengan kesediaan untuk dianggap berbeda, bila memang demikian.  Dan cita-cita yang tinggi tapi implementable.

                Semua kriteria di atas mungkin terasa hanya ada di manusia super, tetapi saya bisa membayangkan bahkan pada profesi yang terlihat sederhana pun, kita bisa menemukan orang-orang seperti ini.  Yang kehadirannya menunjukan bahwa dia hadir dalam pekerjaan secara utuh.  Tidak hanya membawa fisik saja, tetapi semua aspek dirinya.

                Untuk lebih memahami apa itu live to the fullesst sebagai salah satu ciri kebahagiaan bagi HI, maka kita dapat lihat dari perbandingannya.  Mereka yang tidak berada di sana, cenderung mempunyai enerji rendah.  Tidak banyak hal yang ingin dilakukan.  Kalau toh ada hanya sebatas mimpi saja, tidak ada kesetiaan dan konsistensi untuk melaksanakannya.

                Hidup bermalasan.  Hanya bergerak dari satu kesenangan ke kesenangan yang lain.  Kalau toh terlihat bekerja keras, maka itu lebih karena dipaksa situasi, karena takut memilih kehidupan yang lain, karena merasa tidak berdaya.  Ini adalah kondisi kehidupan minimalis, yang merupakan kebalikan dari live to the fullest.

                Begitulah HI memandang kebahagiaan.  Jadi bukan sekedar emosi positif bahagia.  Bukan sekedar memperbanyak emosi positif dan mengabaikan yang negatif.  Tetapi tentang menjalani kehidupan yang penuh, sebagai manusia, dengan berbagai kesalahan, dan terus bangkit dan tumbuh karena ingin mempertahankan baseline happiness yang ada: calmness, optimistik dan bahagia.  Live to the fullesst adalah salah satu kata untuk menggambarkan berbagai gambaran dari Jahoda, Rogers ataupun Maslow.

Leave a Reply

Close Menu