Kebahagiaan akan memperkuat Kapasitas

Edisi 20, 15 Juli 2020

Sebelum bertanding, seorang atlit akan berlatih dengan intensitas tinggi untuk dapat meningkatkan kapasitasnya, sehingga ketika menghadapi suatu pertandingan, ia bisa mengalahkan lawannya.  Kadang ia bertanding dengan lawan yang kemampuannya di bawah dia, maka ia tidak perlu mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk bisa memenangkan pertandingan.  Kadang ia juga menghadapi lawan yang di atas dia.  Yang ideal tentunya ketika lawannya ada sedikit di atas dia, sehingga dia bisa men-stretch kemampuannya di atas kapasitasnya untuk mendapatkan kemenangan.

                Benda pun, seperti kapal misalnya, mempunyai kapasitas tertentu.  Kita ambil contoh sebuah kapal, daya tampung dan kecepatan maksimal yang ada, mengacu pada, salah satunya kekuatan struktur kapal tersebut.  Tidak mungkin kapal didisain untuk bisa mencapai kecepatan tinggi, bila strukturnya tidak memungkinkan hal tersebut. 

Di sini kapasitas, dibedakan dengan daya tampung, karena kapasitas (kemampuan/kekuatan) kapal itu sebetulnya baru akan terbukti setelah berada di kondisi badai terburuk.  Dengan demikian, istilah kapasitas yang digunakan di sini adalah kondisi ‘real’ kemampuan dan kekuatan yang biasanya kita tidak pernah tahu sebelum teruji.  Kemampuan atlet sebenarnya tidak bisa diketahui melalui latihan saja, ia baru akan terbukti ketika berada di pertandingan.

                Ketika di laut tenang, kapal kecil dan besar bisa jadi dapat berjalan sama nyamannya.  Tetapi ketika berada di tengah lautan dengan gelombang yang tinggi, kita tahu mana kapal yang mempunyai kapasitas untuk mengarungi badai tersebut dan mana yang tidak.

                Kapasitas menunjukan kemampuan dan kekuatan kita secara implisit.  Dalam kondisi sehari-hari, kita tidak benar-benar mengetahui kapasitas kita, ketika terjadi tragedi dalam hidup, baru kita mengetahui seberapa jauh kesiapan (baca: kapasitas) dia dalam menghadapi situasi tersebut.  Ketika menghadapi trauma, sebagian orang mengalami post traumatic stress, sementara itu sebagian lain mengalami post traumatic growth, keduanya tergantung pada kapasitas yang ada.

                Mengapa konsep kapasitas ini penting buat HI?  Karena pendekatan HI kita lakukan untuk meningkatkan kapasitas kita, tidak hanya dalam arti menikmati dan mengoptimalkan kehidupan saat ini, tetapi juga untuk menjaga kita agar lebih bisa menghadapi berbagai tantangan hidup dengan baik.  Meningkatnya baseline happiness kita, bisa menjadi faktor menentukan untuk kita dapat mengelola stres dan trauma karena sebuah kejadian yang tragis.

                Kapan saat yang tepat untuk meningkatkan kapasitas kita?  Jawabannya sama dengan jawaban pertanyaan kapan saat yang tepat untuk atlet berlatih?  Atau pada saat apa, kita bisa membenahi kondisi kapal?  Jawabannya yaitu: ketika kita tidak sedang bertanding atau ketika kapal tidak berada di tengah gelombang, 

Dengan kata lain, saat hidup dalam kondisi tenang, merupakan saat yang tepat untuk meningkatkan kemampuan kita dalam mencapai baseline happiness, sehingga kita lebih siap untuk berbagai tantangan hidup yang akan datang. 

Mengobati mental illness pada umumnya dilakukan ketika kita sudah menghadapi berbagai gejala yang serius.  Sebetulnya ketika orang sudah sakit, situasi sudah berada dalam darurat (emergency), dan lebih sulit untuk menyembuhkannya, kalau tidak bisa dikatakan, tidak mungkin. 

Ingat ilustrasi memperbaiki sturktur kapal di tengah badai, sungguh mustahil dan berbahaya.  Karena itu biasanya dalam proses penyembuhan, yang dilakukan adalah membuat tenang terlebih dahulu orang tersebut dengan obat atau terapi tertentu. 

Atau dalam contoh kapal, membuat tenang penumpang dengan mengatakan bahwa kapal cukup kuat untuk menghadapi benturan tersebut (ingat Titanic..).  Apakah berarti kapal itu menjadi lebih kuat?  Tidak.  Apakah berarti ombak sudah lewat?  Tidak juga.  Hanya penghayatannya yang dikurangi.  Sebagian pengobatan dan terapi menggunakan pendekatan yang sama, fokus pada mengatasi gejala yang ada.

                Karena itu Martin Seligman mengatakan bahwa prevensi justru lebih efektif dengan pendekatan psikologi positif.  Memperkuat kapasitas pada saat ‘kapal bersandar’, sehingga ketika di tengah badai, kapal siap mengarunginya dengan tegar.

Leave a Reply

Close Menu