Pengantar
Konsep kebahagiaan lebih sering beredar dalam pembahasan di buku-buku pengembangan diri populer tanpa landasan ilmiah tertentu, sebelum pada 1998, Martin Seligman menggerakan penelitian ke arah positif aspek dari perilaku manusia ketika belia menjabat sebagai Presiden American Psychological Association.
Istilah Psikologi Positif sebetulnya sudah dimulai oleh Abraham Maslow, si pencipta hirarki kebutuhan tersebut, tetapi ‘gerakan’ Martin Seligman-lah yang menyebabkan jumlah penelitian dalam berbagai topik yang bisa disebut ada dalam area psikologi positif meningkat dengan pesat.
Pada awalnya Kebahagiaan, dianggap sebagai konsep primadona dalam area ini, sehingga Authentic Happiness (2002) merupakan salah satu buku awal dari Seligman, namun konsep Kebahagiaan mungkin dirasa kurang dapat menggambarkan apa yang ingin dicakup oleh Psikologi Positif sehingga akhirnya buku signifikan berikut yang dikeluarkan Seligman adalah Flourish (2011), yang kemudian menggunakan term Wellbeing sebagai center dalam pembahasannya. Konsep PERMA: Positive Emotions, Engagement, Relationship, Meaning & Accomplishment, yang dijabarkan di buku ini, kemudian digunakan sebagai pilar dalam mengevaluasi tingkat wellbeing seseorang.
Karena beberapa pertimbangan, blog ini tetap dengan judul Happiness Intelligence yang sudah dipersiapkan cukup lama. Pada seri pengantar ini, kita akan mendiskusikan mengenai apa itu kebahagiaan, dalam perspektif Happiness Intelligencetentunya, dan kaitannya dengan berbagai konsep lain. Selamat menikmati.
- Edisi 1 Rabu 2 Februari 2020, Kebahagiaan dan Sukses
- Edisi 2 Rabu 2 Februari 2020, Apa Itu Happiness Intelligence?
- Edisi 3 Rabu 5 Februari 2020, Apa itu Kebahagiaan menurut HI?
- Edisi 4 Rabu 19 Februari 2020, Tiga Aspek HI: Potensi, Emosi dan Ketahanan
- Edisi 5 Rabu 4 Maret 2020, Negativity: Menjadi Bahagia aja Kok Sulit?
- Edisi 6 Rabu 18 Maret 2020, Negativity: Tidak Mungkin Menjadi Bahagia (2)
- Edisi 7 Rabu 1 April 2020, Negativity (3): Susah dulu, baru bahagia.
- Edisi 8 Rabu 15 April 2020, Kebahagiaan sebagai Secondary Purpose
- Edisi 9 Rabu 18 Maret 2020, Jadi, Kenapa Penting untuk Bahagia?
